Tingkat Inklusi Keuangan Digital Indonesia dan Pendorongnya
12 July 2022
Author by Nida Amalia

Tingkat Inklusi Keuangan Digital Indonesia dan Pendorongnya

Industri fintech Indonesia tengah mendapatkan momentum pertumbuhan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak 2020 justru membuat adopsi berbagai platform fintech menjadi lebih besar, sehingga memberikan dampak langsung pada tingkat digital financial inclusion di Indonesia.

Menurut riset Google, Bain, dan Temasek, diproyeksikan layanan pembayaran digital akan tumbuh sampai $351 miliar di tahun 2025. Sementara platform pinjaman akan mencapai $35 miliar; dan aplikasi investasi bisa membukukan AUM (Asset Under Management) sampai $28 miliar. Secara bisnis, ini adalah ukuran pasar yang luar biasa untuk dicapai dan diperebutkan.

Inklusi keuangan digital

Inklusi keuangan merupakan ketersediaan akses produk, layanan, beserta lembaga keuangan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat dengan tujuan peningkatan kesejahteraan. Sementara inklusi keuangan digital (digital financial inclusion) didefinisikan sebagai ketersediaan akses produk dan layanan keuangan digital (fintech) sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Di Indonesia sendiri, misi inklusi finansial diatur dalam Peraturan OJK No. 76/POJK.07/2016 tahun 2016. Tingkat inklusi keuangan di Indonesia telah mencapai 83,6% pada tahun 2021. Indeks ini meningkat dari 81,4% di tahun 2020.

Salah satu harapan besar dari peningkatan inklusi keuangan adalah mengurangi jumlah undeserved (masyarakat yang belum terlayani produk finansial), seperti dengan memberi akses perbankan dasar (tabungan dan pinjaman). Selain itu diharapkan masyarakat juga bisa mengakses lebih banyak produk lainnya, seperti asuransi, pembiayaan, program pensiun, dan investasi sehingga meningkatkan taraf hidupnya

Menariknya, hampir semua produk keuangan tersebut saat ini sudah ada versi digitalnya. Adapun tujuan utama inovator digital adalah menyederhanakan proses yang sebelumnya ada di dalam layanan konvensional. Ambil contoh untuk layanan perbankan — dengan aplikasi bank digital saat ini masyarakat bisa membuka sebuah rekening melalui ponselnya tanpa harus pergi ke kantor cabang. Begitu juga layanan lain seperti insurtech atau fintech lending.

Produk keuangan digital
Produk keuangan digital

Pertumbuhan industri

Tren tingkat digital financial inclusion di Indonesia berbanding lurus dengan perkembangan di sisi pelaku industri. Selama bertahun-tahun, melihat dari catatan IDX, setidaknya 4–5 perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia adalah perbankan. Di sisi lain, startup fintech juga terus mendapatkan momentum pertumbuhan. Dalam satu tahun terakhir, 3 dari 4 unicorn baru berasal dari sektor fintech.

Data Startup Report 2021 juga menunjukkan bahwa fintech adalah kategori industri yang memiliki peminat tertinggi dalam kaitannya untuk berinvestasi.

Pertumbuhan industri fintech

Namun, rupanya peluang pertumbuhan pasarnya masih sangat besar, serta banyak peluang untuk dieksplorasi. Layanan pinjaman misalnya, dari 103 pemain P2P lending terdaftar di OJK, baru mencakup sekitar 26 juta peminjam menyalurkan dana sekitar $20,4 miliar. Rasio tersebut masih kecil dibandingkan total populasi.

Pun untuk pinjaman bisnis, secara total Indonesia memiliki 63 juta UMKM yang menopang lebih dari 60% PDB nasional. Akan tetapi, layanan keuangan baru mengakomodasi 19% saja, sehingga menghasilkan kesenjangan kebutuhan pinjaman modal sampai $80 miliar.

Pada layanan investasi, berkat popularitas wealthtech dua tahun terakhir jumlah investor ritel bertambah berkali-kali lipat. BAPPEBTI mengatakan, per Februari 2022 jumlah investor aset kripto di Indonesia mencapai 12,4 juta meningkat sebanyak 532.102 dari tahun sebelumnya. Sementara dari data KSEI, jumlah investor pasar modal sudah mencapai angka 8,1 juta orang per akhir Februari 2022. Namun kembali lagi, jika dibandingkan dengan jumlah populasi, angka tersebut masih terlihat sangat kecil persentasenya.

Embedded finance sebagai solusi

Ramainya pemain industri fintech membutuhkan waktu yang relatif panjang untuk bisa benar-benar mengakomodasi masyarakat secara luas dan membawa tingkat digital financial inclusion di Indonesia di tahapan optimal. Untuk itu, berbagai inovasi dibutuhkan agar akses ke layanan keuangan menjadi lebih mudah dan terjangkau. Salah satu inovasi yang kemudian bermunculan adalah embedded finance.

Embedded finance adalah sebuah mekanisme di mana layanan fintech dapat menempel secara native ke dalam sebuah aplikasi konsumer. Contohnya, di sebuah aplikasi belanja terdapat fitur pembayaran atau kredit yang disediakan oleh pengembang.

Embedded finance sebagai solusi

Untuk merealisasikan embedded finance, pengembang perlu menyusun strategi dan arsitektur fintech di dalam aplikasinya. Oleh karena itu, hadirnya startup Open Finance sebenarnya bisa menyederhanakan tahapan tersebut, termasuk menghilangkan berbagai friksi yang mungkin muncul dalam proses pengembangan.

Produk Open Finance berbentuk layanan infrastruktur yang terhubung ke backend melalui mekanisme Open API. Pemilik aplikasi konsumer bisa memilih fitur yang digunakan sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya saat mereka ingin mengoptimalkan data transaksi untuk optimasi layanan pembiayaan, maka platform Open Finance Credit Scoring bisa dimanfaatkan dalam membantu mengumpulkan dan menganalisis data-data tersebut dan menyajikan insight yang berharga.

Konsep embedded finance juga semakin relevan, di saat masyarakat makin bergantung dengan layanan berbasis aplikasi untuk memenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya penggunaan layanan keuangan yang tersemat, secara tidak langsung juga mengantarkan masyarakat kepada akses layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhannya. Ini artinya misi inklusi keuangan bisa tercapai berbarengan dengan ekonomi digital nasional yang bertumbuh sangat kencang dari tahun ke tahun.