Perkembangan dan Daftar Bank Digital di Indonesia
20 September 2022
Author by Finantier

Perkembangan dan Daftar Bank Digital di Indonesia

Bank digital tengah menjadi fenomena di industri keuangan Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Platform baru terus bermunculan dari perusahaan legasi maupun perusahaan baru yang dari awal sudah memfokuskan diri bermain di ranah digital. Sejatinya bank digital tetaplah sebuah layanan perbankan, namun kini fokus pelayanannya terpusat melalui aplikasi mobile yang dirilis.

Di Indonesia, belum ada regulasi yang spesifik mengatur bank digital, sehingga saat ini masih bertumpu pada aturan bank umum dalam POJK No.12/POJK.03/2021. Adapun secara regulasi bank digital didefinisikan sebagai bank berbadan hukum Indonesia yang menyediakan dan menjalankan kegiatan usaha terutama melalui saluran elektronik tanpa kantor fisik selain kantor pusat atau menggunakan kantor fisik yang terbatas.

Potensi bank digital di Indonesia

Menurut  Global Industry Analysts Inc., ukuran pasar global untuk bank digital diperkirakan sudah mencapai $12,1 miliar pada 2020. Diproyeksikan bertumbuh sampai $30,1 miliar pada 2026 mendatang dengan CAGR 15,7%. Segmen perbankan ritel diperkirakan mengalami pertumbuhan terbesar dengan 14,3% CAGR, bernilai $14,3 miliar.

Menariknya, pangsa pasar bank digital juga terbagi ke dalam banyak segmen. Menurut laporan bertajuk "New Banks in the 4th Industrial Revolution", terdapat beberapa jenis inisiatif bank digital, mulai dari betabank, neobank, challengers, big tech, sampai retailer bank. Masing-masing memiliki proposisi nilai yang berbeda.

Di sisi pengguna akhir, firma riset PwC memberikan analisisnya bahwa bank digital yang ada saat ini berpotensi untuk merangkul segmen pengguna baru dari kalangan pengguna di usia muda (gen-z), digital millennials, pekerja kerah biru dan abu-abu, serta gig worker.

Sebenarnya ada sejumlah manfaat yang bisa didapatkan oleh institusi perbankan dengan beralih (atau minimal menyediakan) layanan bank digital, di antaranya:

  • Meningkatkan ketangkasan operasional. Skalabilitas bisnis bisa ditingkatkan dengan dana modal operasional yang lebih ringkas, dengan sistem otomatisasi
  • Memperluas pangsa pasar. Memungkinkan perusahaan menjangkau lebih banyak kalangan, tidak terbatas pada keberadaan kantor fisik sebagai representasi.
  • Memanfaatkan ekosistem digital. Konsep Open Banking memungkinkan pemain bank digital terhubung dengan berbagai layanan digital untuk saling memberikan value, sehingga memberikan manfaat bagi masing-masing basis pelanggan.

Bank Digital di Indonesia

Di Indonesia saat ini sudah ada sejumlah pemain bank digital yang telah memulai operasionalnya. Beberapa di antaranya adalah:

  • Aladin (PT Bank Aladin Syariah Tbk)
  • Allo Bank (PT Allo Bank Indonesia Tbk)
  • blu by BCA Digital (PT Bank Digital BCA)
  • Digibank (PT Bank DBS Indonesia)
  • Jenius (PT Bank BTPN Tbk)
  • Jago (PT Bank Jago Tbk)
  • LINE Bank (PT Bank KEB Hana Indonesia)
  • Motion (PT Bank MNC Internasional Tbk)
  • Neobank (PT Bank Neo Commerce Tbk)
  • New Livin' (PT Bank Mandiri Tbk)
  • Nyala (PT Bank OCBC NISP Tbk)
  • Raya (PT Bank Raya Indonesia Tbk)
  • SeaBank (PT Bank Seabank Indonesia)
  • TMRW (PT Bank UOB Indonesia)
  • Wokee (PT Bank Bukopin Indonesia Tbk)

Layanan yang disuguhkan juga variasi, mulai dari fitur perbankan dasar sampai dengan layanan wealthtech. DSInnovate dalam laporannya juga membagi segmentasi para pemain bank digital sesuai proposisi nilainya, menghasilkan pemetaan segmen layanan seperti gambar di bawah ini:

Ekosistem perbankan terbuka

Konsep Banking as a Services (BaaS) turut menjadi tren di era bank digital. BaaS memungkinkan sebuah layanan digital memiliki fitur perbankan di dalam aplikasinya. Bank sendiri bertindak sebagai pemberi layanan, lalu dihubungkan ke dalam aplikasi pihak ketiga melalui sambungan API.

Bagi konsumen akhir, BaaS memungkinkan mereka mendapatkan pengalaman yang seamless dalam mendapatkan berbagai penawaran produk finansial --- misalnya tidak perlu lagi menginstal banyak aplikasi. Sementara untuk platform digital, ini menjadi nilai tambah dengan menghadirkan layanan embedded finance. Dan bagi bank itu sendiri, ini juga menjadi strategi untuk meningkatkan basis penggunaanya, selain menjadi model bisnis dan monetisasi baru di luar pelayanan primernya.

Bagaimana Open Finance menyederhanakan kolaborasi antarplatform?

Open Finance memiliki serangkaian layanan infrastruktur finansial yang dapat diterapkan ke dalam sebuah aplikasi digital. Di dalamnya termasuk fitur terkait layanan perbankan yang bisa disematkan ke dalam aplikasi. Misalnya Account Aggregation, memungkinkan layanan aplikasi terhubung dengan data perbankan pengguna — dengan otoritas sepenuhnya di tangan pengguna.

Skenario penggunaannya juga beragam, salah satunya untuk layanan keuangan personal. Alih-alih pengembang aplikasi harus menghubungkan setiap API dari perbankan berbeda, layanan Open Finance dapat meringkas pekerjaan tersebut, memungkinkan satu API Account Aggregation mengakomodasi pengelolaan data nasabah dari berbagai jenis akun bank.

Selengkapnya tentang Account Aggregation dan inovasi Open Finance lainnya, kunjungi: finantier.co/