Peran Open Finance Mendorong Masa Depan Pembayaran Digital di Asia Tenggara
23 August 2022
Author by Finantier

Peran Open Finance Mendorong Masa Depan Pembayaran Digital di Asia Tenggara

Saat ini Asia Tenggara memiliki lebih dari 400 juta pengguna internet atau setara 73% dari total populasi yang ada. Jumlahnya terus bertambah, seiring dengan pemerataan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah. Populasi ini turut mendorong ekonomi digital di kawasan tersebut, di tahun 2021 nilainya sudah mencapai $174 miliar.

Layanan berbasis aplikasi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi tersebut. Platform seperti e-commerce, OTA (Online Travel Agency), online media, fintech, dan ride-hailing menjadi yang paling banyak memberikan sumbangsih. Namun demikian layanan lain seperti edutech, healthtech, agritech, sampai dengan insurtech juga memiliki potensi pertumbuhan di pasar ini.

Selain kematangan dari model bisnis yang disajikan para inovator, pertumbuhan berbagai bisnis tersebut turut tergantung oleh sejumlah faktor, salah satunya penyediaan infrastruktur teknologi, salah satunya platform pembayaran digital.

Peran platform pembayaran digital ini cukup krusial. Menurut laporan IDC, kawasan Asia Tenggara tengah mengalami transformasi sistem pembayaran yang mengarah ke pembayaran digital. Dicontohkan dari transaksi e-commerce, pada tahun 2025 diproyeksikan mencapai $179,8 miliar (meningkat 162% dari tahun 2021), di mana dari total tersebut 91% transaksi dikelola melalui pembayaran digital.

Tren pertumbuhan layanan pembayaran digital di Asia TenggaraMenurut data yang dirangkum UOB dalam laporan "FinTech in ASEAN 2021", pada H12021 terdapat $3,5 miliar pendanaan yang digulirkan investor untuk startup fintech di Asia Tenggara. Dari 167 transaksi pendanaan yang terjadi, mayoritas masuk ke platform fintech berbasis pembayaran digital. Sebarannya juga merata di hampir seluruh negara --- bahkan di beberapa kawasan seperti Filipina, Malaysia, dan Vietnam proprosinya mendominasi.

Hipotesis investor dalam berinvestasi di sektor tersebut tidak lain dilandasi karena potensi pasar yang masih sangat besar. Terlebih kawasan ini juga memiliki banyak populasi unbankable – ada 290 juta penduduk usia muda yang tidak memiliki akses ke layanan perbankan. Di sisi lain, kebutuhan yang besar juga datang dari kalangan industri, dalam rangka memberikan opsi pembayaran yang lebih mudah kepada para konsumennya.

Menurut data, dua platform pembayaran digital yang saat ini mendominasi dihasilkan dari digital commerce dan mobile point of sales. Untuk yang pertama, yakni digital commerce, diartikan sebagai pembayaran digital yang digunakan dalam memfasilitasi transaksi di merchant online. Sementara mobile point of sales, untuk menerima pembayaran di merchant offline, termasuk dengan metode QRIS.

Ada beberapa hal yang membuat platform pembayaran digital ini digandrungi masyarakat di kawasan Asia Tenggara, di antaranya:

  • Kemudahan akses; untuk melakukan pendaftaran ke sebuah platform pembayaran baru, sebut saja e-money, pengguna hanya perlu mengunduh aplikasi lalu melakukan proses pendaftaran yang cepat dan sepenuhnya online.
  • Ekosistem digital yang lengkap; aplikasi pembayaran digital saat ini bisa digunakan di banyak sekali layanan, terlebih ekosistem aplikasi digital juga sudah sangat luas, mulai dari sektor ritel, pendidikan, hiburan dan sebagainya.
  • Regulasi yang matang; payung regulasi yang mengatur sistem pembayaran digital sudah cukup solid di hampir semua negara di Asia Tenggara. Sebagai contoh di Indonesia, diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 20/6/PBI/2018.
  • Pengalaman pengguna yang menyenangkan; tidak sekadar pembayaran, para pengembang platform pembayaran digital sebagian besar menyajikan pengalaman pengguna yang menarik, misalnya dengan menyertakan fitur gamifikasi atau loyalty yang bisa memberikan keuntungan lebih kepada para pengguna layanannya.

Regulasi Pembayaran Digital

Di setiap negara memiliki badan regulator untuk mengatur sistem pembayaran digital. Aturan tersebut mengharuskan setiap penyedia harus memiliki lisensi (atau terdaftar) untuk benar-benar bisa beroperasi di wilayah tersebut. Berikut ini daftar regulator pembayaran digital untuk beberapa negara di Asia Tenggara:

Peran Open Finance dalam Pembayaran Digital

Open Finance adalah sebuah penyedia infrastruktur teknologi finansial, tujuannya memudahkan perusahaan untuk menghadirkan kapabilitas fintech ke dalam proses bisnisnya. Use case penggunaan Open Finance di sistem pembayaran digital cukup beragam, salah satunya model Recurring Payment.

Recurring Payment memungkinkan sebuah bisnis untuk mengautomasi pembayaran berulang dari konsumennya, dengan tujuan mereduksi biaya-biaya yang sering dibebankan kepada platform ataupun konsumen — bisa sampai 99% penghematannya.

Finantier adalah penyedia Open Finance yang turut menyuguhkan layanan Recurring Payment. Sejumlah kemudahan disuguhkan kepada pengembang, mulai dari proses integrasi yang sederhana melalui Open API yang terstandardisasi, sampai dengan sistem keamanan dan enkripsi dengan grade layanan perbankan.

Namun demikian, Open Finance tidak berhenti di situ saja. Sejumlah fitur turut dapat dioptimalkan ke dalam proses kerja sebuah platform pembayaran digital. Mulai dari sistem e-KYC sampai dengan agregasi akun.
Informasi lebih lanjut, kunjungi: https://finantier.co/products/recurring-repayments-and-subscriptions