Pembayaran Digital di Indonesia
11 May 2022
Author by Nida Amalia

Pembayaran Digital di Indonesia

Pembayaran Digital di Indonesia

Pembayaran digital adalah sebuah platform berbasis teknologi yang menjembatani proses transaksi keuangan secara nontunai — baik kepada merchant online maupun offline. Popularitasnya semakin meningkat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari penetrasi perangkat mobile yang tinggi, meluasnya merchant yang go-digital, regulasi sistem pembayaran semakin matang, hingga kuatnya ekosistem penyelenggara layanan.

Menurut survei yang dilakukan DSInnovate terhadap 1500 responden pengguna fintech di Indonesia, platform pembayaran digital seperti e-money hingga paylater saat ini menjadi layanan teknologi finansial yang paling banyak diadopsi masyarakat. Tidak dimungkiri, aplikasi e-commerce dan ride hailing menjadi salah satu pendorong utamanya. Di samping itu, berbagai aplikasi digital lainnya seperti OTT hingga game online juga memfasilitasi pembayaran nontunai untuk sistem monetisasinya.

Pembayaran digital saat ini juga memfasilitasi berbagai transaksi offline seperti di supermarket hingga pedagang asongan, memanfaatkan QRIS yang terus digenjot pemanfaatannya oleh otoritas. Bank Indonesia (BI) sebagai regulator yang menaungi sistem pembayaran juga mendorong transaksi nontunai melalui berbagai program sosialisasi dan insentif yang digalakkan.

Jenis-Jenis Layanan Pembayaran Digital

Di Indonesia, terdapat beberapa jenis pembayaran digital yang bisa digunakan masyarakat. Ditinjau dari jenis pengembangnya, ada dua pihak yang menyediakan layanan tersebut yakni perbankan dan pemain fintech.

Jenis-Jenis Layanan Pembayaran Digital
Jenis-Jenis Layanan Pembayaran Digital

Berikut ini penjelasan beberapa produk pembayaran digital yang populer digunakan saat ini:

1. E-Money

E-money atau uang elektronik terdiri dari dua jenis, yakni berbasis chip dan server. Untuk e-money berbasis chip, biasanya berbentuk kartu yang digunakan untuk melakukan pembayaran nontunai. Salah satu contoh implementasinya di Indonesia adalah untuk pembayaran di gerbang tol. Penerbit e-money berbasis chip adalah perbankan. Orang bisa membeli kartu melalui mitra distribusi (seperti minimarket atau e-commerce) kemudian melakukan top-up melalui berbagai mekanisme: ATM, NFC di ponsel, mobile banking, dll.

Sedangkan e-money berbasis server berbentuk aplikasi mobile yang dapat digunakan untuk pembayaran. Beberapa aplikasi e-money populer seperti Gopay, OVO, ShopeePay, LinkAja, Dana, dan masih banyak lainnya.

2. E-Wallet

E-wallet atau dompet elektronik didefinisikan sebagai layanan elektronik untuk menyimpan data instrumen pembayaran, antara lain alat pembayaran dengan menggunakan kartu dan/atau uang elektronik, yang dapat menampung dana untuk melakukan pembayaran. Dalam implementasinya, biasanya e-wallet menyatu ke dalam platform digital tertentu seperti aplikasi travel, e-commerce, dan lain sebagainya dengan tujuan memudahkan proses transaksi pembayaran dan pengembalian dana oleh/kepada konsumen.

3. Internet/Mobile Banking

Internet banking adalah layanan perbankan online yang dapat diakses melalui situs website yang dikembangkan pihak bank. Sementara mobile banking adalah sebuah aplikasi perbankan digital yang dapat dipasangkan oleh nasabah ke dalam ponselnya untuk bisa menikmati berbagai layanan perbankan secara digital. Keduanya hampir sama, menunjang berbagai kebutuhan terkait layanan perbankan, termasuk pembayaran digital.

4. QRIS

Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) adalah penyatuan berbagai macam QR dari berbagai penyelenggara sistem pembayaran yang menggunakan QR Code. QRIS dikembangkan oleh industri sistem pembayaran bersama dengan Bank Indonesia agar proses transaksi dengan QR Code dapat lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya. Semua Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran yang akan menggunakan QR Code Pembayaran wajib menerapkan QRIS

Bagi konsumen, adanya QRIS memungkinkan mereka melakukan pembayaran dengan aplikasi apapun (e-money) dengan kode QR yang sama. Pun bagi pemilik merchant, tidak perlu lagi menempel kode yang berbeda-beda untuk menerima pembayaran dari berbagai jenis aplikasi.

5. Paylater

Paylater atau beberapa menyebutnya dengan BNPL (Buy Now Pay Later) menjadi metode pembayaran yang mulai populer beberapa tahun terakhir. Sebenarnya, ini merupakan salah satu turunan inovasi dari layanan fintech lending yang memfasilitasi pembayaran nontunai melalui metode cicilan — mirip dengan kartu kredit namun dalam bentuk aplikasi. Awalnya layanan paylater banyak digunakan di e-commerce, namun kini juga mulai menyasar ke ritel tradisional.

6. Platform Pendukung

Untuk bisa menerima pembayaran digital, sebuah bisnis atau pengembang perlu memanfaatkan layanan pendukung. Saat ini ada beberapa jenis digital payment enabler yang banyak diadopsi, mulai dari Point of Sales (POS) untuk ritel offline, payment gateway untuk ritel online, hingga penyelenggara layanan QRIS.

Regulasi Pembayaran Digital

Di Indonesia, ada beberapa regulasi yang berkaitan langsung dengan layanan pembayaran digital, sebagai berikut:

  1. Peraturan Bank Indonesia Nomor 20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik.
  2. Peraturan Bank Indonesia No.18/40/PBI/2016 dan Surat Edaran Bank Indonesia No.18/41/DKSP tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran.
  3. Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 24/1/PADG/2022 tanggal 25 Februari 2022 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 21/18/PADG/2019 tentang Implementasi Standar Nasional Quick Response Code untuk Pembayaran. ​
  4. Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 21/18/PADG/2019 tentang Implementasi Standar Nasional Quick Response Code untuk Pembayaran.
  5. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.03/2018 tentang Penyelenggaraan Layanan Perbankan Digital oleh Bank Umum.

Selain itu masih ada beberapa aturan yang juga mendukung sistem pembayaran digital secara tidak langsung, misalnya POJK mengenai Fintech Lending yang turut menjadi dasar operasional dari platform paylater.

Manfaat Pembayaran Digital

Adopsi pembayaran digital memberikan banyak manfaat bagi konsumen dan juga pebisnis. Untuk konsumen, selain efisiensi yang diberikan karena tidak harus membawa uang tunai ke mana-mana, cara ini juga lebih aman terhindar dari kejahatan. Selain itu, pemilik akun juga mendapatkan catatan keuangan atas pengeluaran yang dilakukan — karena seluruh transaksi dicatat dan dilaporkan secara otomatis di aplikasi.

Sementara bagi pelaku bisnis, adanya sistem pembayaran memudahkan mereka untuk menyimpan uang dan mengelola arus-kas karena semua tercatat serba digital. Selain itu, pembayaran digital menghindari risiko klasik seperti tidak ada kembalian atau rentan terjadi salah hitung. Pembayaran digital juga memungkinkan pebisnis meningkatkan retensi pengguna dengan berbagai program loyalitas seperti promo atau poin yang bisa diselenggarakan melalui platform POS atau payment gateway yang digunakan.

Membentuk Profil Finansial

Bagi ekosistem bisnis keuangan secara umum, transisi konsumen menuju pembayaran nontunai juga bisa dipandang sebagai angin segar untuk menghadirkan sistem finansial yang lebih terjangkau. Dengan adopsi pembayaran digital yang masif, banyak peluang yang bisa dikembangkan untuk menghadirkan berbagai layanan finansial pendukung lainnya. Terlebih, di era saat ini pebisnis juga bisa memanfaatkan kecanggihan platform Open Finance untuk membantu mereka dalam melakukan transformasi digital.

Salah satu produk Open Finance yang bisa dimanfaatkan adalah Account Aggregation. Implementasinya dalam sebuah sistem aplikasi memungkinkan pebisnis membentuk profil finansial para konsumennya. Memberikan fasilitas yang memudahkan mereka untuk mendeklarasikan kemampuan finansial dengan menghubungkan akun-akun keuangan yang dimiliki, baik dari aplikasi fintech maupun perbankan.

Berikut ini gambaran cara kerjanya:

Cara kerja Account Aggregation di pembayaran digital
Cara kerja Account Aggregation di pembayaran digital

Data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, di antaranya:

  • Menyajikan layanan pengelolaan keuangan yang terpersonalisasi sesuai dengan kemampuan masing-masing nasabah.
  • Melihat daya beli atau kemampuan kredit menggunakan data alternatif dari sistem transaksi di luar layanan perbankan.
  • Hingga mendapatkan gambaran utuh tentang tren pengeluaran yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan bisnis di masa mendatang.

Transformasi digital di sektor keuangan sudah selayaknya dianggap menjadi sebuah kesempatan bagi pelaku industri untuk membawa bisnisnya setingkat lebih maju. Open Finance bisa menjadi salah satu solusi untuk mengantarkan bisnis yang dikembangkan memaksimalkan berbagai peluang yang ada, termasuk menangkap berbagai kesempatan yang hadir di tengah tren pembayaran digital yang semakin pesat di Indonesia — bahkan dunia.

Hubungi kami untuk layanan Open Finance