Memaksimalkan Potensi Fintech Lending di Luar Jawa
11 May 2022
Author by Nida Amalia

Memaksimalkan Potensi Fintech Lending di Luar Jawa

Memaksimalkan Potensi Fintech Lending di Luar Jawa

Fintech Lending hadir di tengah gap layanan keuangan dari perbankan, khususnya untuk produk pinjaman produktif dan konsumtif. Ada banyak faktor yang melandasi, salah satunya peningkatan kebutuhan dari kalangan early adopter (pengguna awal layanan finansial) dari Gen Z dan Milenial dan juga orang-orang yang sebelumnya masuk di kalangan unbanked (tidak memiliki rekening bank).

Seperti diketahui, layanan pinjaman yang sejauh ini ada mengandalkan data histori transaksi nasabah untuk menilai kelayakan mereka dalam menerima fasilitas kredit atau pembiayaan. Bagi orang yang pertama kali hendak masuk ke ekosistem produk finansial, prasyarat tersebut kadang memberatkan. Termasuk bagi pelaku UMKM, pembukuan yang buruk acapkali membuat mereka gagal ketika mengajukan kredit usaha produktif di perbankan.

Kondisi tersebut dimanfaatkan inovator teknologi untuk menghadirkan produk pinjaman yang lebih terjangkau untuk kalangan unbankable (orang yang belum tersentuh produk perbankan secara menyeluruh). Mereka memanfaatkan rekam data digital yang saat ini hampir dimiliki oleh masyarakat — khususnya pengguna ponsel pintar dan aplikasi berbasis internet.

Namun, pelaku bisnis fintech lending juga masih sering dihadapkan pada tantangan di saat melakukan penilaian kredit. Penyebabnya banyak hal, misalnya agregasi dan pengelolaan data, sampai analisis yang harus dilakukan secara manual. Sementara bisnis fintech saat ini dituntut untuk bisa melakukan pelayanan secara cepat. Untuk itu, dibutuhkan berbagai teknologi pendukung di balik layar untuk memastikan proses pinjam-meminjam yang terjadi dapat berjalan mulus.

Artikel ini akan membahas tentang kondisi dan potensi bisnis fintech lending di Indonesia, serta bagaimana teknologi credit scoring membantu pebisnis meningkatkan performa layanan untuk mengakomodasi potensi nasabah yang masih terbuka lebar di Indonesia, khususnya dari luar Jawa.

Minat Tinggi Layanan Fintech Lending

Menurut data statistik yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Maret 2022 jumlah penyaluran pinjaman oleh fintech lending sudah mencapai lebih dari 23 triliun Rupiah. Dibandingkan tahun lalu, nominal tersebut naik lebih dari 2x lipat. Ada beberapa hal yang melandasi peningkatan tersebut, di antaranya:

  • Produk pinjaman fintech yang semakin beragam

Saat ini produk fintech lending yang melayani pengguna di Indonesia sudah sangat bervariasi, baik dari jenis layanan, sasaran produk, sampai dengan fasilitas pinjaman yang diberikan. Hal ini memberikan fleksibilitas tersendiri kepada calon nasabah dan memungkinkan mereka untuk mendapatkan produk kredit, pinjaman, atau pembiayaan yang sesuai.

Berikut ini pemetaan dari layanan yang saat ini ada:

Pemetaan layanan fintech lending
  • Dukungan oleh banyak pemain

Hingga Maret 2022, terdapat 102 perusahaan fintech lending yang terdaftar dan berizin di OJK. Sebanyak 7 unit di antaranya adalah penyelenggara syariah. Dari pemain yang ada, total aset yang dilaporkan mencapai Rp4,5 triliun. Dari banyaknya pemain, sebagian memberikan produk pinjaman general, sebagian lagi fokus ke sektor tertentu. Contohnya, ada perusahaan fintech lending yang hanya fokus untuk memberikan pembiayaan produktif untuk petani dan peternak; dan lain sebagainya.

  • Regulasi yang mengayomi ekosistem fintech

Regulator (dalam hal ini OJK) juga telah memiliki aturan spesifik yang mengatur layanan fintech lending. Tepatnya pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 mengenai Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (LPMUBTI).

Di lain sisi, regulator juga cukup sigap melakukan pemberantasan layanan fintech lending ilegal yang sempat marak beroperasi dan menjebak para nasabahnya. Untuk melakukan langkah preventif dan represif, OJK bekerja sama dengan Kemenkominfo dan Satgas Waspada investasi telah melakukan screening dan pemblokiran terhadap layanan fintech yang beroperasi tanpa izin di Indonesia. Sejak awal 2018, sudah ada ribuan entitas fintech ilegal yang diblokir oleh otoritas terkait.

  • Peningkatan inklusi dan literasi finansial

Meningkatnya indeks literasi dan inklusi finansial turut meningkatkan jumlah penikmat layanan fintech lending di Indonesia. Misalnya di kalangan pelaku UMKM, mereka mulai tersadar pentingnya mendapatkan pinjaman produktif untuk meningkatkan modal inti yang dimiliki guna melakukan ekspansi dan memenangkan kompetisi pasar. Upaya sosialisasi juga digencarkan berbagai pihak, baik oleh pelaku industri, pemerintah, akademik, media, dan berbagai elemen lainnya.

Alasan Fintech Lending harus berkembang di luar Jawa

Sejauh ini, layanan fintech lending di Indonesia masih banyak terkonsentrasi di seputaran Pulau Jawa. Perbandingannya sangat mencolok jika melihat persentase persebaran jumlah penerima dan penyaluran pinjaman yang ada. Berikut datanya:

Persentase persebaran jumlah penerima dan penyaluran pinjaman

Meskipun luas geografisnya hanya sekitar 7% dari keseluruhan wilayah di Indonesia, menurut hasil Sensus Penduduk 2020 oleh BPS sebanyak 56,10% dari total populasi masyarakat Indonesia tinggal di Pulau Jawa. Meskipun begitu, di luar angka penduduk, ada berbagai alasan kuat kenapa pelaku fintech lending perlu mempertimbangkan pasar di luar Jawa, berikut di antaranya:

  • Potensi Pengguna

Walaupun persentasenya kurang dari separo, potensi pengguna layanan fintech lending di luar Jawa juga sangat potensial. Pertama, jenis layanan pinjaman konvensional yang mengakomodasi masyarakat di luar Jawa tidak lebih banyak — ini berarti mempersempit potensi persaingan. Kedua, indeks literasi dan inklusi keuangan yang relatif lebih rendah yang membuat banyak kalangan unbanked dari luar Jawa. Terakhir, potensi penyerapan pinjaman produktif dari sektor UMKM dan agrobisnis yang ada di sana.

  • Dorongan Regulasi

Sejak dua tahun lalu, OJK tengah menggodok pembaruan beleid untuk fintech lending. Selain pengetatan aturan terdaftar, salah satu pasal yang ada akan mensyaratkan para pemain fintech lending untuk melakukan ekspansi di luar Jawa. Salah satu tujuannya adalah untuk mempercepat pemerataan ekonomi.

Platform Credit Scoring Finantier membantu Fintech ekspansi ke luar Jawa

Ketika membicarakan ekspansi di luar Jawa, tentu ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan oleh pelaku fintech lending, mulai dari kesiapan kapital, tim/personalia, hingga infrastruktur teknologi yang matang untuk menghadapi berbagai tantangan yang mungkin menghadang. Salah satu isu mendasar yang masih banyak menjadi perhatian adalah tentang penilaian kredit calon nasabah, terutama saat ingin menyasar area-area di daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal).

Pengembang fintech lending membutuhkan mekanisme pengumpulan dan analisis data yang ideal untuk menentukan kelayakan seseorang untuk menerima pinjaman. Dengan keterbatasan sumber data yang ada, mereka juga mencoba mencari alternatif data transaksi yang kemungkinan bisa diproses dan menghadirkan insight berharga yang membentuk profil keuangan seseorang.

Finantier Score hadir sebagai platform alternative credit scoring, menyediakan layanan teknologi yang dapat membantu pengembang fintech lending melakukan penilaian kelayakan kredit secara lebih komprehensif. Finantier memanfaatkan data-data digital yang dimiliki pengguna, misalnya data transaksi di aplikasi e-commerce, pembayaran PPOB, transaksi dompet digital, dan lain sebagainya.

Finantier APIs untuk fintech lending

Memanfaatkan kemampuan artificial intelligence dan machine learning, data-data tersebut kemudian diolah hingga menghasilkan gambaran utuh tentang kelayakan kredit calon nasabah layanan fintech tertentu. Prosesnya terjadi sangat cepat dan instan, sehingga turut memberikan pengalaman pengguna yang mengesankan. Hal yang perlu dilakukan oleh pengembang hanya menghubungkan sebuah API (Application Programming Interface) Finantier ke dalam backend aplikasi yang dikembangkan.

Selain sistem yang andal, ada dua alasan penting mengapa Finantier layak diperhitungkan untuk menjadi mitra perusahaan fintech lending dalam menghadirkan layanan credit scoring. Pertama, Saat ini Finantier sudah masuk ke daftar Inovasi Keuangan Digital OJK untuk klaster Credit Scoring, sesuai dengan POJK No. 13/POJK.02/2018. Ini menyiratkan bahwa operasional dan teknologi yang disuguhkan Finantier sudah memenuhi kepatuhan yang disyaratkan regulator. Finantier juga menjadi platform Open Finance pertama yang terdaftar di regulatory sandbox tersebut.

Kedua, untuk memberikan jaminan keamanan dan privasi data yang lebih baik, Finantier telah mendapatkan sertifikasi ISO 27001:2013. Ini menunjukkan bahwa Finantier telah mempraktikkan metodologi terbaik dalam melakukan pengamanan (khususnya preventif) untuk menjaga sistem informasi yang diakomodasi di dalam platformnya. Aspek keamanan menjadi penting, apalagi bisnis finansial tergolong diregulasi ketat oleh pemerintah.

Dengan dukungan infrastruktur teknologi yang mumpuni dan aman, diharapkan bisa melancarkan upaya pengembang fintech untuk memperluas jangkauan pasarnya. Membantu upaya pemerintah melakukan pemerataan ekonomi dengan menyediakan fasilitas layanan kredit yang terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Hubungi kami untuk layanan kredit scoring

Mulai sekarang

Kontak dengan tim ahli kami!

Coba demo sekarang