Melayani Berbagai Karakteristik Konsumen Fintech Lebih Baik dengan Open Finance
16 March 2022
Author by Nida Amalia

Melayani Berbagai Karakteristik Konsumen Fintech Lebih Baik dengan Open Finance

Melayani Berbagai Karakteristik Konsumen Fintech Lebih Baik dengan Open Finance

Salah satu cara yang paling efektif dilakukan agar layanan digital selalu relevan adalah dengan memahami karakteristik konsumen secara mendalam. Begitupun untuk layanan fintech, diperlukan desain produk dan proses bisnis yang mengedepankan kebutuhan konsumen. Dapat dipastikan setiap varian produk akan memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengakomodasi kebutuhan berdasarkan karakteristik konsumen tersebut.

Jenis produk juga sebenarnya berpengaruh. Adapun produk-produk fintech yang saat ini populer adalah berbasis pinjaman. Salah satunya divalidasi hasil survei yang dilakukan DSInnovate dalam “Fintech Report 2021”, saat ini produk fintech paling populer di Indonesia adalah e-money (80,2%), paylater (68,9%), fintech lending personal (53,1%), investasi (44,7%), dan fintech lending bisnis (38,3%).

Untuk mengakomodasi bisnis fintech memahami lebih dalam karakteristik konsumennya, produk Open Finance dapat diterapkan untuk menjadi bagian dari ekosistem produk. Salah satu tujuannya adalah untuk memberikan gambaran mendalam tentang profil finansial pengguna. Artikel ini akan mengulas tentang penerapan produk Open Finance dengan studi kasus kategori produk fintech paling populer saat ini, yakni pinjaman.

Karakteristik Konsumen Fintech

Mengutip dari statistik yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Desember 2021 ada sekitar 17,2 juta rekening peminjam personal di layanan fintech lending. Ditinjau dari jenis kelamin nasabah, jumlahnya lebih besar dari kalangan perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Pun dari sisi nominal yang berhasil dicairkan, secara akumulatif untuk nasabah perempuan nilainya lebih besar dibandingkan laki-laki.

Sementara jika dikategorikan dari rentang usia peminjam, paling banyak ada di kisaran 19–34 tahun, disusul 35–54 tahun. Dari segi usia, keduanya memiliki persentase yang kurang lebih sama dari nominal yang berhasil dicairkan. Sehingga jika disimpulkan, untuk saat ini layanan lending paling banyak diadopsi kalangan milenial yang lebih terkenal sebagai orang tech savvy atau paham dengan alat-alat digital.

Kategori peminjam aktif berdasarkan jenis kelamin (Data per Desember 2021)
Kategori peminjam aktif berdasarkan sebaran usia (Data per Desember 2021)

Namun demikian jika merujuk hasil riset lain, misalnya dari laporan “The Future of Southeaset Asia’s Digital Financial Services” oleh Bain & Company, mengatakan bahwa 92 juta jiwa penduduk usia dewasa di Indonesia belum tersentuh layanan perbankan atau dari lembaga finansial formal lainnya. Sehingga jika dikorelasikan, untuk layanan fintech lending karakteristik konsumennya adalah orang-orang muda yang mungkin belum terlalu terbiasa dengan layanan perbankan formal seperti kredit perbankan, BPR, atau lembaga multifinance.

Jika melihat statistik pengguna fintech di OJK yang cenderung mendapatkan kenaikan konsisten dari tahun ke tahun, artinya potensi adopsi layanan fintech ke depannya untuk kalangan milenial tadi akan semakin besar. Hal ini sebenarnya juga sudah mulai terbukti dengan beralihnya beberapa fokus layanan bank ke perbankan digital, contohnya Bank Neo Commerce, Bank Jago, dll — beberapa perusahaan bahkan membentuk anak usaha khusus di bidang bank digital, misalnya blu by BCA Digital, Jenius, dll.

Kondisi tersebut tentu memberikan tantangan tersendiri bagi pelaku fintech, yakni tentang bagaimana mereka melakukan penilaian dan pengukuran. Pasalnya, tidak banyak data historis seperti rekaman kredit di bank, yang bisa dijadikan patokan.

Menciptakan Produk Fintech Terpersonalisasi

Layanan Open Finance yang seperti dihadirkan oleh Finantier hadir menjembatani kesenjangan tersebut. Produk-produknya dapat memfasilitasi pengembang layanan fintech untuk bisa melakukan lebih banyak hal, termasuk dalam hal ini melakukan penilaian kelayakan kredit. Di Finantier ada produk Credit Scoring yang saat ini sudah terdaftar sebagai salah satu Inovasi Keuangan Digital di OJK. Produk ini memungkinkan konsumen fintech lending memanfaatkan data-data transaksional yang dimiliki untuk meningkatkan kredibilitasnya.

Dengan sambungan Open API yang aman dan terstandarisasi, produk Finantier juga mudah disematkan melalui backend aplikasi. Ini akan memberikan pengalaman mulus tanpa friksi kepada para pengguna. Langkah-langkahnya mengalir menyesuaikan proses bisnis yang telah ditentukan sebelumnya. Dengan demikian, pelaku fintech bisa mengakomodasi kalangan konsumen yang lebih luas, termasuk kalangan unbankable yang jumlahnya masih banyak sekali di Indonesia.

Selain itu, peran Open Finance juga melengkapi rangkaian sistem yang sudah dimiliki. Katakanlah institusi finansial sebelumnya sudah memanfaatkan layanan seperti Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dari OJK, layanan seperti Credit Scoring yang dihadirkan Finantier dapat menjadi pelengkap — sekaligus menciptakan gambaran calon nasabah yang lebih terpersonalisasi. Artinya, akan ada banyak insight yang didapat oleh bisnis berkaitan dengan nasabah-nasabahnya.

Dalam menghadirkan sebuah sistem yang terpersonalisasi, dibutuhkan sebuah platform yang mampu mengagregasi banyak akun sekaligus — membawa setiap akun pengguna di satu dasbor. Kemudian, dasbor tersebut menjadi sebuah gambaran utuh akan profil dan karakteristik konsumen tersebut.

Mengenal Layanan “Account Aggregation”

Selain Credit Scoring, Finantier juga memiliki layanan Account Aggregation. Bagi nasabah, layanan ini menjadi sebuah jembatan untuk bisa membagikan berbagai rekam jejak digital dan catatan finansial dari berbagai sumber yang dimiliki. Orang bisa menyambungkan nomor rekeningnya, akun e-wallet, e-commerce, dan lain-lain untuk meningkatkan kualitas kredit mereka. Sementara bagi bisnis layanan ini jelas akan memberikan manfaat untuk menghasilkan profil yang lebih mendalam tentang calon nasabahnya.

Dalam pemrosesannya, layanan Account Aggregation Finantier akan memiliki tiga tahapan penting, yakni sebagai berikut:

  1. Perizinan dan Persetujuan; akan ada sebuah tahapan untuk meminta perizinan dan persetujuan konsumen akhir bahwa data yang dimiliki boleh dibagikan untuk kepentingan tertentu. Tampilannya bisa menggunakan widget Finantier atau menggunakan layanan aplikasi fintech yang telah terintegrasi dengan API Finantier.
  2. Permintaan Laporan Finansial; Finantier akan melakukan permintaan data berdasarkan perizinan sebelumnya, akun-akun milik konsumen akan dihubungkan secara aman untuk dianalisis data-datanya.
  3. Menampilkan Profil Finansial; laporan keuangan pengguna akhir akan ditampilkan dengan mengagregasi berbagai akun finansial yang ada menunjukkan profil terperinci dan terpersonalisasi untuk masing-masing pengguna. Dari sini karakteristik konsumen akan terlihat dengan jelas.

Contoh Use Case

Dalam sebuah layanan fintech lending, pemilik platform bisa menggunakan beberapa fitur Open Finance sekaligus untuk meningkatkan kemampuan mereka — bahkan bisa diterapkan untuk membantu proses dari ujung ke ujung. Contohnya sebagai berikut:

  • Proses Registrasi

Fase paling awal dalam sebuah proses on-boarding di layanan fintech lending adalah memvalidasi identitas dari calon nasabah. Di sini, dibutuhkan sebuah platform untuk membantu proses KYC (Know Your Customer) yang dapat bekerja secara cepat. Finantier memiliki layanan Verification, di dalamnya termasuk sistem e-KYC. Data-data seperti foto kartu identitas yang digunakan pengguna ke platform dapat dibantu untuk divalidasi dengan data yang ada di basis data milik pemerintah, dalam hal ini Ditjen Dukcapil.

  • Proses Penilaian

Fase kedua, setelah identitas tervalidasi, nasabah akan dinilai kelayakannya untuk mendapatkan pinjaman. Di sini akan dihasilkan jawaban: disetujui atau tidak; lalu berapa besaran maksimal yang bisa didapat. Jika nasabah tersebut sudah memiliki rekam jejak, prosesnya bisa langsung memanfaatkan sistem Credit Scoring. Namun jika belum, platform Account Aggregation akan membantu pengguna untuk menciptakan profil finansialnya dengan menghubungkan berbagai akun yang dimiliki.

  • Proses Pencairan

Fase ketiga, hasil akhir dari Account Aggregation adalah menampilkan profil nasabah secara komprehensif untuk memudahkan pemilik layanan memutuskan tingkat kelayakan secara lebih baik. Sehingga pebisnis bisa mendapatkan karakteristik konsumen dengan tingkat validitas tinggi.

Dengan mengimplementasikan sistem Open Finance yang sudah teruji tangkas, penyedia layanan bisa fokus pada bisnis utamanya, alih-alih disibukkan dengan proses-proses yang bisa di automasi dengan teknologi.

Di samping itu, dengan memahami karakteristik konsumen melalui data-data yang dihasilkan oleh platform Open Finance, pemangku kepentingan di bisnis dapat terbantu untuk menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang dapat selalu difokuskan untuk kenyamanan pengguna. Hingga pada akhirnya setiap produk yang dihasilkan bisa dengan cepat mencapai product-market fit.

Hubungi kami untuk layanan Open Finance

Mulai sekarang

Kontak dengan tim ahli kami!

Coba demo sekarang