FEKDI 2022: Mengungkap Peluang Optimasi SNAP untuk Inklusi Keuangan
02 August 2022
Author by Finantier

FEKDI 2022: Mengungkap Peluang Optimasi SNAP untuk Inklusi Keuangan

Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) 2022 kembali diselenggarakan oleh Bank Indonesia di Bali. Perhelatan ini sekaligus merupakan side event dalam rangkaian G20 Finance Track: Finance and Central Bank Deputies (FCBD) dan 3rd Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di Nusa Dua, Bali.

Di acara ini, berbagai komponen di industri finansial berpartisipasi untuk menciptakan sinergi dan kolaborasi menuju sistem keuangan yang lebih inklusif. Hal ini sesuai dengan tema besar FEKDI 2020, yakni "Advancing Digital Economy and Finance: Synergistic and Inclusive Ecosystem for Accelerated Recovery."

Finantier secara aktif juga turut andil dalam FEKDI 2020, menjadi peserta sekaligus menginisiasi sesi diskusi untuk memberikan insight kepada para peserta yang hadir secara langsung maupun virtual.

Satu hal yang menarik, dalam sebuah sesi “Mini Stage”, yang membahas tentang pemanfaatan SNAP yang telah diluncurkan sejak tahun 2021 lalu. Dalam diskusi ini, hadir sebagai narasumber Edwin Kusuma (Co-Founder & COO Finantier), Novyanto (Deputi Direktur, Kepala Divisi Pengembangan dan Pengelolaan Data dan Informasi Bank Indonesia), dan Dana Afriza (Direktur Eksekutif Perbanas).

Open Finance mendorong kolaborasi

Mengawali sesi, Edwin mengatakan bahwa implementasi Open Finance berpeluang besar untuk mendorong inklusi keuangan di Indonesia. Ia turut menekankan, bahwa kolaborasi dan sinergitas antarpermain adalah esensi dari Open Finance, yang berperan penting untuk pertumbuhan ekonomi digital, serta mendorong indeks inklusi keuangan Indonesia mencapai 90% di tahun 2024.

"Open Finance adalah ekstensi dari Open Banking, salah satu solusi untuk kolaborasi antara Lembaga Jasa Keuangan dan Non-Lembaga Jasa Keuangan. Penerapan Open Finance memungkinkan sebuah perusahaan mengintegrasikan layanannya secara aman dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat," jelas Edwin.

Sinergitas lewat Open Finance, yang diterapkan via Open API juga memungkinkan inovasi berkelanjutan oleh lembaga keuangan, memberikan berbagai kemudahan bagi konsumen, sampai jaminan rasa aman karena adanya standardisasi. Hal lainnya yang Dana soroti adalah bagaimana Open Finance dapat menjamah lebih banyak UMKM untuk mendapatkan layanan keuangan.

Pada dasarnya Perbanas sendiri selalu mendorong sinergitas dan keterbukaan ini, salah satunya lewat adopsi SNAP untuk standardisasi Open API dalam sistem pembayaran digital, sebagai bentuk dukungan untuk ekosistem keuangan.

Perkembangan implementasi SNAP

Sebelum penerapan SNAP (Standar Nasional Open API Pembayaran), setiap pengembang aplikasi mempunyai sistem dan standar yang berbeda-beda. Hal ini dapat menghambat laju inovasi karena minimnya interporabilitas. Regulasi ini yang mendorong integrasi, interkoneksi, dan interoperabilitas sistem sehingga aman dan nyaman ketika dihubungkan satu dengan yang lain.

Mengenai perkembangan SNAP, Novyanto dari Bank Indonesia mengatakan bahwa pasca diresmikan standardisasi tersebut implementasinya akan terbagi ke dalam 4 fase. Di pertama, yang sudah jalan sejauh ini, fokusnya adalah implementasi kepada first-mover, yakni 5 bank, 7 fintech pembayaran, dan 3 e-commerce.

Fase selanjutnya, semua penyedia jasa pembayaran diharapkan melakukan migrasi ke SNAP. Lalu dilanjutkan fase ketiga, yakni mengintegrasikan semua pengguna --- untuk institusi non-penyedia jasa keuangan (misalnya e-commerce) juga ditargetkan bisa terintegrasi per tahun 2024 mendatang. Hingga pada akhirnya di fase terakhir, integrasi di sisi pengguna yang bersifat pemberdayaan UMKM dan nirlaba.

"Digitalisasi sangat cepat, namun BI sudah memiliki blueprint supaya tidak kehilangan arah. Kita memiliki 5 visi, yang diturunkan ke 5 inisiatif, salah satunya untuk mengatur standar Open API. Tahun lalu kita sudah berhasil menyusun SNAP, yang diharapkan mengatasi isu fragmentasi yang selama ini ada. Teknologi API yang sudah banyak dipakai sebelumnya memiliki bahasa sendiri-sendiri, dengan adanya standar diharapkan satu sama lain bisa saling terkoneksi," ujar Novyanto.

Novyanto turut menyampaikan, untuk memaksimalkan SNAP ada 3 hal yang perlu diperhatikan. Pertama terkait dengan aspek integrasi. "Kalau masing-masing pemain masih bekerja untuk mengatasi silo masing-masing, manfaat digitalisasi tidak maksimal. Namun jika bisa saling terintegrasi, maka akan memberikan manfaat lebih luas. Untuk bisa integrasi butuh interkoneksi dan interoperabilitas. Dan untuk menghasilkan interkoneksi dan interoperabilitas, butuh standardisasi" jelasnya.

Aspek kedua adalah sinergi, baik antara regulator dengan pemain industri, maupun antar pemain industri itu sendiri. Dan yang terakhir adalah inklusi, yakni upaya mendorong inovasi keuangan ini bisa dinikmati oleh semua. Sehingga tidak ada yang tertinggal lagi.