5 Hal yang Menyebabkan Proses e-KYC Gagal di Aplikasi Fintech
06 June 2022
Author by Nida Amalia

5 Hal yang Menyebabkan Proses e-KYC Gagal di Aplikasi Fintech

5 Hal yang Menyebabkan Proses e-KYC Gagal di Aplikasi Fintech

Aplikasi fintech yang ada saat ini mengharuskan calon pengguna untuk melakukan proses e-KYC (Electronic Know Your Customer) sebelum benar-benar bisa memanfaatkan layanannya. Proses tersebut penting dilakukan, karena penyedia layanan keuangan diwajibkan oleh regulator untuk memegang teguh prinsip kehati-hatian — dalam hal ini dengan mengetahui siapa calon nasabahnya. Namun demikian, ketika melakukan pendaftaran ke layanan fintech tertentu, kadang ada kalanya proses e-KYC gagal dilakukan.

Tahapan umum proses e-KYC dalam aplikasi fintech
Tahapan umum proses e-KYC dalam aplikasi fintech

Gagalnya proses e-KYC bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yang timbul akibat permasalah dari sisi pengguna ataupun dari sisi penyedia layanan. Berikut ini beberapa hal umum yang sering mengakibatkan proses e-KYC gagal:

Permasalahan terkait nomor telepon atau email

Salah satu tujuan utama e-KYC adalah melakukan autentikasi dan otorisasi dengan cara memastikan akun yang mereka miliki dan akan digunakan sebagai medium akses ke layanan finansial. Dengan aplikasi yang ada saat ini, biasanya mengharuskan pengguna untuk menyetor alamat email dan nomor ponsel yang dimiliki. Tidak sampai di situ saja, mereka juga harus membuktikan bahwa email dan nomor tersebut benar-benar milik mereka.

Untuk memverifikasi, ada dua cara yang biasa dilakukan oleh pengembang. Pertama dengan mengirimkan kode OTP (One Time Password) ke email atau nomor ponsel via SMS, untuk kemudian dimasukkan ke aplikasi. Kedua, dengan mengirimkan tautan/link khusus yang harus diklik oleh pengguna untuk melanjutkan ke proses sebelumnya.

Agar bisa melakukan salah satu dari dua opsi di atas, maka pengguna harus memastikan alamat email dan nomor kontak yang digunakan masih aktif agar bisa menerima pesan yang dikirimkan sistem. Jika tidak, bisa dipastikan proses e-KYC akan mengalami kegagalan.

Permasalahan terkait perangkat

Di dalam proses e-KYC, juga ada beberapa tahapan lain yang harus dilalui pengguna. Misalnya untuk memverifikasi keabsahan identitas pengguna, biasanya diminta melakukan foto diri dan kartu identitas. Proses e-KYC gagal juga disebabkan karena ada kendala di perangkat, misalnya saat memotret hasilnya kurang sesuai yang diharapkan, menjadikan sistem pemindai (biasanya menggunakan OCR — Optical Character Recognition) gagal untuk mengidentifikasi hasil tangkapan gambar.

Oleh karena itu, perlu dipastikan ketika hendak melakukan proses e-KYC diusahakan perangkat dalam kondisi prima. Salah satu yang harus dipastikan adalah kamera bisa memindai dengan baik.

Permasalahan terkait kartu identitas

Platform e-KYC juga melakukan verifikasi atas data-data yang dimasukkan ke otoritas terkait. Misalnya untuk kartu identitas (KTP), ketika ada data yang diinputkan akan secara otomatis diverifikasi ke basis data yang ada di Ditjen Dukcapil. Begitu pula dengan data NPWP yang akan diverifikasi ke basis data yang dimiliki Ditjen Pajak. Backend platform e-KYC secara sinkron terintegrasi melalui API dengan sistem yang dimiliki oleh pemangku kepentingan tersebut.

Dengan proses yang seperti itu, maka pengguna harus memastikan seluruh data yang dimasukkan adalah benar. Termasuk menghindari adanya salah ketik atau typo. Pasalnya, jika ada data yang tidak sesuai akan menghasilkan proses e-KYC gagal.

Permasalahan terkait konektivitas internet

Operasional aplikasi fintech juga memiliki ketergantungan tinggi terhadap konektivitas internet, karena semua prosesnya dilakukan secara online. Selama proses e-KYC ada kalanya ponsel perlu mengunggah berkas berukuran tinggi — misalnya ketika melakukan swafoto hasil megapixel yang dari kamera besar, sehingga berkasnya berukuran besar pula. Ketika tiba-tiba koneksi lambat, proses upload tersebut berpotensi mengalami kegagalan.

Ada juga proses e-KYC yang biasanya membutuhkan proses panggilan video, karena dalam verifikasi data masih dilakukan semi-manual oleh petugas secara online. Kegiatan ini juga membutuhkan koneksi internet yang stabil. Jadi tipsnya, pastikan ketika hendak melakukan proses e-KYC kondisi internet yang digunakan dalam keadaan prima, dengan memastikan kuota yang dimiliki atau menggunakan jaringan wifi yang stabil.

Permasalahan di sisi aplikasi

Jika 4 poin di atas bisa terlalui dengan baik namun proses e-KYC gagal, bisa jadi permasalahan memang ada di sisi aplikasi. Untuk memastikan proses e-KYC oleh calon nasabah bisa dilakukan dengan baik, pengembang perlu memastikan bahwa platform yang digunakan memiliki keandalan tinggi. Ini juga berkaitan dengan bagaimana sistem OCR yang digunakan bekerja, sistem machine learning yang digunakan dapat menerima repons secara cepat, hingga bagaimana konektivitas sistem aplikasi dengan API Ditjen Dukcapil.

Platform e-KYC memang memiliki kompleksitas tinggi, sehingga regulator pun memiliki aturan standar khusus terkait dengan layanan ini. Namun demikian, bagi pengembang aplikasi ada opsi untuk menyederhanakannya, yakni dengan menggandeng mitra pengembang platform e-KYC pihak ketiga. Perusahaan Open Finance seperti Finantier memfasilitasi kebutuhan tersebut. Melalui rangkaian solusinya, seperti pada produk Verification, pengembang bisa menghadirkan sebuah layanan Instant e-KYC di aplikasinya tanpa perlu proses pengembangan dari nol.

Selain menghasilkan proses validasi yang cepat, produk Verification dari Finantier juga menawarkan akurasi data yang tinggi dan menghilangkan friksi dari proses-proses manual. Pada akhirnya dengan proses e-KYC yang mulus, diharapkan juga dapat berperan meningkatkan tingkat akuisisi pengguna dengan pengalaman baik yang disuguhkan.

Hubungi kami untuk layanan Verification Income and Identity